Bisnis kue kering memang menarik terutama menjelang Hari Raya, baik itu Lebaran, Natal, atau Hari Raya lainnya. Selain digemari karena gurih dan nikmat di lidah, kue-kue tersebut juga terkenal daya tahannya. Bahkan, bisa bertahan hingga sebulan lebih.
Siapa saja bisa berbisnis kue kering, tetapi dengan kualitas yang berbeda. "Ini bisnis musiman. Siapa saja bisa melakukannya," kata Tini, ibu rumah tangga yang memiliki usaha kue kering di kawasan Sleman, Yogyakarta.
Menurut Tini, kue kering, seperti nastar, kastengel, dan putri salju, paling banyak peminatnya. Terlebih, harga yang ia tawarkan juga tidak terlalu mahal. Berkisar Rp 27.000-Rp 35.000 per toples.
Walaupun terkesan murah, bisnis kue kering bukanlah bisnis recehan. Seperti yang dialami pengusaha kue kering asal Bandung, Diah Susilawati. Lebaran tahun lalu, pengusaha wanita yang menawarkan 30 jenis kue ini berhasil menjual sekitar 80 ribu lusin toples kue kering. WOW!
Diah mulai merintis bisnis kuenya sejak tahun 1996 dengan modal awal Rp. 100 - 150 juta. Untuk mempromosikan kuenya, ibu dua anak ini bergerilya dari rumah ke rumah, memanfaatkan teman/keluarga, dan rajin mengikuti pameran di mall-mall.
Selain secara konvensional, bisnis kue kering ini juga bisa dijalankan atau dipromosikan secara online seperti yang dilakukan Dhiandra Novrina Diyanti. Mulanya ia berfikir, bagaimana bisa jualan kue tanpa mengganggu pekerjaan di kantornya. Bagaimanapun, ia masih belum bisa meninggalkan profesinya sebagai karyawan. Tercetuslah ide menjual kue lewat internet dengan membangun toko online.
Setelah toko online dibuka, masih ada ganjalan lagi. "Ternyata, membangun kepercayaan di dunia maya, lebih sulit, karena tak ada tatap muka langsung," kata wanita berkerudung ini. Apalagi mayoritas orang Indonesia masih belum terbiasa belanja secara online.
Beberapa kali, Dhiandra harus menjelaskan kepada calon pelanggannya bahwa ia tidak memiliki toko dan contoh produk hanya bisa dilihat di internet. Ia juga harus meyakinkan kepada mereka tentang jaminan kualitasnya. Upaya ini terus dilakukannya sampai pelanggan percaya. "Biasanya, setelah beberapa kali memesan, mereka akan terbiasa, kemudian menjadi percaya," ujar Dhiandra.